Opini

Muhammadiyah Tulungagung: Refleksi atas Keteguhan Dakwah Islam Berkemajuan di Bumi Wajakensis

M
Muhammad Khoirun Nizam Penulis
04 Jun 2026
4 mnt baca
280x dibaca
Muhammadiyah Tulungagung: Refleksi atas Keteguhan Dakwah Islam Berkemajuan di Bumi Wajakensis

Sumber foto: Gedung Dakwah Muhammadiyah Tulungagung sebagai pusat kegiatan dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat Muhammadiyah di Kabupaten Tulungagung.

temanamal.org - Di balik perkembangan Muhammadiyah yang hari ini begitu mudah dijumpai melalui sekolah, masjid, panti asuhan, dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, terdapat sejarah panjang perjuangan yang tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kisah menarik tersebut dapat ditemukan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Daerah yang dikenal sebagai Kota Marmer ini memiliki dinamika sosial yang unik karena pada masa sebelum tahun 1965 dikenal sebagai wilayah dengan pengaruh budaya abangan yang kuat serta menjadi salah satu basis Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kondisi tersebut tentu bukan lingkungan yang mudah bagi tumbuhnya gerakan Islam modern seperti Muhammadiyah. Namun justru dari situasi yang penuh tantangan itulah lahir kisah keteguhan dan semangat dakwah yang patut menjadi inspirasi bagi generasi saat ini. Melalui jurnal Growing in the Middle of Communist and Abangan (History of Muhammadiyah Tulungagung) karya Shubhi Mahmashony Harimurti, pembaca diajak menelusuri bagaimana Muhammadiyah mampu bertahan, berkembang, bahkan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat Tulungagung di tengah berbagai tekanan sosial dan ideologis.

Sejarah mencatat bahwa Muhammadiyah mulai hadir di Tulungagung sekitar tahun 1932. Pada masa itu, masyarakat masih sangat dipengaruhi tradisi keagamaan sinkretis dan kepercayaan turun-temurun yang bercampur dengan ajaran Islam. Di sisi lain, menjelang peristiwa G30S 1965, pengaruh PKI semakin kuat di berbagai wilayah Tulungagung. Dalam kondisi demikian, Muhammadiyah hadir membawa semangat pembaruan Islam yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah. Kehadiran gerakan ini tidak selalu diterima dengan baik. Berbagai bentuk penolakan, intimidasi, hingga ancaman fisik pernah dialami oleh para aktivis Muhammadiyah yang berjuang menyebarkan dakwah di tengah masyarakat.

Meski menghadapi tantangan yang berat, Muhammadiyah tidak memilih jalan konfrontasi. Sebaliknya, organisasi ini menempuh pendekatan pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial sebagai sarana membangun kepercayaan masyarakat. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Palil, Mohammad Ridwan, Moh. Djen, dan Muhammad ibn Abdullah Syamlan menjadi pelopor yang menggerakkan roda organisasi. Mereka mendirikan sekolah, mengadakan pengajian, membangun mushala dan masjid, serta melakukan berbagai kegiatan sosial yang secara langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Langkah-langkah tersebut secara perlahan mengubah pandangan masyarakat terhadap Muhammadiyah.

Salah satu tokoh yang menonjol dalam perjalanan Muhammadiyah Tulungagung adalah Muhammad ibn Abdullah Syamlan. Sosok ini dikenal sebagai mubalig yang gigih dan tidak kenal lelah dalam menyampaikan dakwah Islam. Syamlan aktif mengadakan pengajian di berbagai daerah, menghadapi perdebatan dengan kelompok komunis maupun kalangan abangan, serta mendorong lahirnya cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai wilayah Tulungagung. Keteguhan dan keberaniannya menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga kesabaran dan keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan. 

Keberhasilan Muhammadiyah Tulungagung tidak hanya tampak dalam bidang keagamaan. Organisasi ini juga berhasil menunjukkan kontribusinya dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Berdirinya sekolah-sekolah Muhammadiyah, Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal, Masjid Al-Fatah Kepatihan, Panti Asuhan Siti Fatimah, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah hadir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Menariknya, banyak amal usaha tersebut yang pada awal pendiriannya mendapat penolakan dari sebagian masyarakat, tetapi kemudian diterima bahkan menjadi kebutuhan bersama. 

Fenomena inilah yang menurut penulis jurnal menjadi salah satu keunikan Muhammadiyah Tulungagung. Organisasi ini pernah mengalami kondisi "dibenci tetapi kemudian dicintai". Berbagai gagasan pembaruan yang awalnya dianggap asing lambat laun diterima karena masyarakat dapat merasakan manfaat nyata yang dihasilkan. Pendidikan yang berkualitas, pelayanan sosial yang menyentuh masyarakat kecil, serta dakwah yang menyejukkan menjadi faktor utama yang membuat Muhammadiyah memperoleh tempat di hati masyarakat Tulungagung. 

Dari sejarah tersebut, terdapat pelajaran penting bahwa perubahan sosial tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, keteladanan, dan kerja nyata yang berkelanjutan. Muhammadiyah Tulungagung membuktikan bahwa dakwah yang dilakukan dengan pendekatan pendidikan dan pelayanan sosial mampu menciptakan perubahan yang lebih kuat dan bertahan lama dibandingkan sekadar perdebatan ideologis. Semangat inilah yang masih relevan hingga hari ini, terutama di tengah berbagai tantangan dakwah dan perkembangan masyarakat modern.

Pada akhirnya, sejarah Muhammadiyah Tulungagung bukan hanya cerita tentang sebuah organisasi Islam yang berkembang di daerah. Lebih dari itu, sejarah tersebut merupakan bukti bahwa nilai-nilai Islam berkemajuan mampu tumbuh di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan. Ketika perjuangan dilakukan dengan niat yang tulus, strategi yang tepat, dan komitmen yang kuat untuk melayani umat, maka hasilnya bukan hanya keberlangsungan organisasi, tetapi juga lahirnya manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat lintas generasi.

Sumber Utama

Harimurti, Shubhi Mahmashony. (2018). Growing in the Middle of Communist and Abangan (History of Muhammadiyah Tulungagung). Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, Volume 2, Nomor 1, Juni 2018, hlm. 67–84. 

Bagikan Artikel Ini